Tampilkan postingan dengan label Mangrove News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mangrove News. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 September 2016

BMC, Mutiara dari Sumatera

Standard
MANGROVEMAGZ. Hai Magzrover! Pulau Sumatera menyimpan mutiara. Bukan mutiara biasa, melainkan sosok organisasi penyelamat mangrove yang berbasis mahasiswa di bawah Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Riau. Sepak terjangnya tak bisa dikatakan biasa, karena telah berhasil memberikan contoh yang baik kepada masyarakat di sana, mengenai arti pentingnya mangrove. Penasaran? Berikut ini, hasil wawancara Ganis Riyan Efendi melalui email, dengan mereka.
Apakah singkatan dari BMC Riau? 

Sejak kapan BMC Riau berdiri?
BMC berdiri pada tanggal 2 Desember 2009.

BMC Riau ini di bawah jurusan Ilmu Kelautan UNRI, ya? Benarkah?
Iya, BMC berdiri dibawah Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Riau (UR). Kedudukan kami ada di kampus FAPERIKA di gedung Marine Center, kampus Bina Widya Panam dan satu lagi di kampus Marine Station kota Dumai, provinsi Riau.

 
BMC berbincang di radio. (Foto: BMC).

Apa saja program kerja BMC Riau?
BMC mempunyai program kerja internal dan eksternal.
Internal meliputi:
1. PKBMC (Pengukuhan Kepengurusan BMC) untuk mengukuhkan kepengurusan BMC yang baru.
2. ROKER (Recrutment of Belukers) untuk penerimaan CAKAP (Calon Belukap).
3. DIKSAROVE (Pendidikan Dasar Mangrove) untuk pembekalan dasar mangrove serta pelantikan Beluker Baru.
4. RDT (Rancangan Dwi Tahunan) untuk musyawarah anggota dan pergantian kepengurusan.
5. MILAD BMC untuk mempringati hari berdirinya BMC, pada tanggal 2 Desember, tiap tahunnya.
6. PDM (Pengalaman dari Mangrove) untuk berbagi pengalaman dan informasi tentang segala hal yang berhubungan dengan ekosistem mangrove.
Eksternal meliputi:
1. PENGSIR (Penghijauan Pesisir) untuk seminar, pelatihan, penyuluhan dan penanaman mangrove.
2. CE (Coastal Education) untuk seminar, pembibitan, penyuluhan, dan penyulaman mangrove.
3. GBPL (Gerakan Bersih Pantai dan Laut).
4. BGTS (Belukers Go To School) untuk mengkampanyekan ekosistem mangrove ke tingkat sekolah-sekolah.
5. BENING (Beluker Monitoring) untuk studi, wisata dan mendokumentasikan ekosistem mangrove di beberapa tempat.
6. RM (Riset Mangrove) untuk penelitian mangrove yang dilaksanakan oleh Belukers.

Berapa orang anggota BMC Riau, saat ini?
Anggota yang aktif 31 orang, semuanya aktif.

 
Pengukuhan kepengurusan baru BMC oleh pihak kampus UR. (Foto: BMC).

Menurut BMC, mengapa mangrove di Riau wajib dilestarikan. Ada ancaman apa?
Melihat provinsi Riau memiliki wilayah pesisir dan ekosistem mangrove di beberapa kabupaten, namun ekosistem mangrove ini sudah banyak yang rusak karena alih fungsi lahan, maka dari itu kami hadir untuk mensosialisasikan dan melakukan aksi untuk lingkungan hidup.

Apakah BMC sudah pernah melakukan sosialisasi kebijakan mangrove di Riau?
Sejauh ini sudah, melalui program eksternal yang ada pada AD/ART BMC.

Apakah visi dan misi BMC dalam melestarikan mangrove?
Visi BMC, yaitu sebagi pusat kegiatan mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan Universitas Riau dalam bidang konservasi, rehabilitasi, kampanye serta studi eksosistem mangrove. Misinya adalah:
1. Meningkatkan keahlian dan potensi mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dalam bidang konservasi dan rehabilitasi ekosistem mangrove.
2. Mengkampanyekan ekosistem mangrove kepada mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelauatan, Universitas Riau khususnya dan masyarakat luas secara umum.

Apa yang membuat BMC berbeda dengan organisasi mangrove lainnya?
Organisasi BMC bergerak untuk menunjang keilmuan mahasiswa Ilmu Kelauatn yang akan menumbuhkan jiwa yang cinta lingkungan, khususnya untuk ekosistem mangrove. Organisasi BMC sebuah club study di bawah jurusan Ilmu Kelautan yang dimana memiliki Pembina, yang juga berdasarkan dari dosen Ilmu Kelautan.

 
Belajar pemetaan mangrove bersama BMC. (Foto: BMC).

Apakah BMC punya tokoh pejuang/organisasi mangrove panutan? Kenapa?
Ada Bapak Darwis dari Pecinta Alam Bahari (PAB) kota Dumai karena sudah memberikan pemahaman serta sudah berbuat banyak terhadap penyelamatan ekosistem mangrove yang berada di Dumai.

Bagaimana kondisi mangrove di Riau saat ini? Bagaimana tingkat keanekaragaman hayatinya? Adakah jenis flora dan fauna yang terancam keberadaannya?
Kondisi mangrove dikatakan rusak karena banyak dialih fungsi lahan menjadi sawit dan ditebang menjadi kayu arang. Keanekaragamannya sangat baik, memiliki mangrove sejati dan mangrove asosiasi. Sejauh ini, belum mendapatkan mana flora dan fauna yang terancam karena makrozoobentos, kera dan biawak masih banyak terlihat dan burung-burung juga masih banyak yang bermigrasi ke ekosistem mangrove yang ada di provinsi Riau.

Selain berkampanye, dengan cara apa lagi BMC berjuang menyelamatkan mangrove di Riau?
Melakukan aksi nyata, seperti menjalani agenda program kerja eksternal BMC.

 
Selain menanam mangrove, BMC juga aktif kampanyekan mangrove kepada khalayak umum di Riau. (Foto: BMC).

Apakah BMC memiliki program atau produk mangrove andalan? Apa saja, bisa dijelaskan?
Sirup dan dodol dari Soneratia alba dan Keripik Jeruju. Hanya itu saja sejauh ini.

Bermitra dengan siapa saja BMC dalam menyelamatkan mangrove di Riau?
Dengan intansi terkait yang menaungi permasalahan ekosistem mangrove ini. Kalau NGO itu, dengan Yayasan Mitra Insani dan LSM TEGAS Kepulauan Meranti provinsi Riau dan Kelompok Mangrove Muara Bimbai, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara.

Bagaimana tanggapan pihak kampus dengan kehadiran BMC di UNRI? Apakah kampus memberikan dukungan penuh? Mengapa?
Tanggapannya sangat baik karena menunjang keilmuan mahasiswa Ilmu Kelautan dan mereka memberikan dukungan terhadap BMC, baik itu secara moral dan moril, serta kami juga saling bertukar pikiran dengan pihak kampus akan pentingnya menjaga eksosistem mangrove tersebut.

Apa saja kendala yang dihadapi BMC dalam menyelamatkan mangrove di Riau?
Kendala pertama kami adalah sebagai mahasiswa, yaitu waktu dan anggaran dana ketika ingin berkegiatan.

Siapa saja stake holder mangrove yang aktif dalam pengelolaan mangrove di Riau? Bisa dijelaskan nama, fungsi dan perannya? Dimana posisi BMC?
Stake holder mulai dari KKMD, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Dinas Perikanan dan Kelautan.

 
Rapat suksesi kepengurusan BMC. (Foto: BMC).

Bagaimana solusi BMC menghadapi segala kendala yang dihadapi?
Untuk solusi menghadapi segala kendala, pertama kami harus membina hubungan dan komunikasi kepada orang-orang atau LSM yang bergerak di bidang lingkungan. Kami melakukan sharing ketika mendapatkan solusi dari mitra BMC. Kami juga sharing dengan Pembina. Sejauh ini, kendala hanya di waktu kami sebagai mahasiswa. Dan, kami kedudukannya sekarang di kota Pekanbaru, bukan di Dumai. Jadi, kendala jarak untuk turun ke lapangan itu menjadi suatu kendala utama.

Apa saja prestasi dan pencapaian BMC selama ini?
Sejauh ini prestasi masih sedikit.

Apakah BMC masih memiliki program kerja yang belum terlaksana, namun ingin diwujudkan dalam waktu dekat? Bisa dijelaskan?
Sejauh ini semua terlaksana, baik itu program kerja internal maupun eksternal karena kepengurusan kami 1 periode 2 tahun.

 
Apa harapan BMC untuk masa depan mangrove di Riau pada khususnya dan Indonesia pada umumnya?
Sesuai dengan slogan kami, Biru Lautku Hijau Pesisirku, kami ingin mangrove dapat hidup dengan keanekaragaman yang baik, tidak ada eksplotasi secara berlebihan. Kami harus menjaga kelestarian ekosistem mangrove untuk anak cucu kita. Dan, harapan paling utama, lambat laun masyarakat akan sadar apa manfaat ketika ada ekosistem mangrove tersebut sehingga tidak menyesal seperti sekarang yang ada di pulau Rangsang di desa Kedabu Rapat kepualuan Meranti yang bisa dikatan 20 tahun lagi akan bisa tenggelam pulau tersebut.

 
Inilah Belukers, Biru Lautku Hijau Pesisirku! (Foto: BMC).

Apa pesan BMC kepada generasi muda Indonesia, agar bisa berkiprah dan menebar inspirasi cinta mangrove seperti BMC?
Kalau bukan kita, siapa lagi? Dan, kalau bukan sekarang, kapan lagi? Sudahi kongkow-kongkow tidak jelas. Lebih baik kita menikmati alam ini yang telah diberikan Tuhan dan mari kita jaga untuk keberlangsungan anak cucu kita, khususnya untuk menjadi pejuang mangrove. Lumpur yang kita pijakkan itu, bukan lumpur kesengsaraan ketika kita terjebak di dalam lupur tersebut, namun jadikan ketika kita beraksi di lumpur mangrove dan menanam mangrove. Yakinlah, semua apa yang kita niatkan untuk keberlangsungan lingkungan hidup dalam penyelamatan ekosistem mangrove, maka yang kita rasakan itu kedepannya bukan sekarang.


Sumber : http://mangrovemagz.com/

BMC Ajak Warga Dumai Tanam Mangrove

Standard

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Belukap Mangrove Club (BMC) Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Riau Melakukan Kegiatan Coastal Education di Kelurahan Purnama, Kota Dumai, pada tanggal 12 hingga 13 Desember 2015 kemarin. Kegiatan itu bertepatan dengan memperingati Hari Nusantara yang jatuh pada tanggal 13 Desember 2015.
Ketua BMC Ilmu Kelautan UR, Khairul, Kamis (17/12/2015) mengatakan, kegiatan Coastal Education merupakan program tetap dari BMC. Selama dua hari, acara diadakan di Pusat Pendidikan Mangrove Kampus Stasiun Kelautan Universitas Riau, Kelurahan Purnama Kota Dumai. Bentuk kegiatan berupa seminar sosialisasi mangrove, identifikasi mangrove, outbound mangrove, pelatihan nabung lumpur, pelatihan pembibitan jenis rhizophora dan diakhiri dengan penghijauan pesisir.
" Kegiatan Coastal Education itu mengajak masyarakat, Ikatan Keluarga Alumni Ilmu Kelautan, Mahasiswa dan Siswa/Siswi se Kota Dumai untuk melestarikan hutan mangrove yang ada di kota tersebut, khususnya bagi warga di Kelurahan Purnama,"ungkapnya
Khairul mengutarakan, peserta yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan itu adalah siswa-siswa SD 018 Dumai, SD 012 Dumai, SMP 7, MAN 2 Dumai, serta siswa dari Perwakilan Pramuka SMK Taruna Dumai.
"Para Peserta sangat antusias dalam mengikuti rangkaian kegiatan Coastal Education tersebut. Mereka langsung turun ke lapangan dan mendapatkan pelatihan–pelatihan khusus dengan anggota BMC,"ucapnya.
Ditambahkan Khairul, acara itu dimulai dengan seminar mangrove pada hari pertama. Narasumbernya berasal dari kalangan Instansi pemerintahan dan akademisi.
"Bidang Fungsional Ekosistem Mangrove Badan Pengelolaan Hutan Mangrove Wilayah Dua Medan, Khairul Munadi menyampaikan materi Pengolahan Hutan Mangrove. Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kota Dumai, diwakili oleh Soetjie Purnama Sari SIk, MM, menyampaikan zonasi dan karakteristik ekosistem mangrove. Kemudian akademisi dari Jurusan Ilmu Kelautan yang di Wakili oleh Teguh Heriyanto S.Pi. Ia memberikan materi pentingnya publikasi tentang ekosistem mangrove,"paparnya.
Lebih jauh dikatakan Khairul, kegiatan di hari ke dua peserta diajak ke lapangan untuk melakukan kegiatan nabung lumpur, pembibitan dan penanaman jenis avicenia di pinggir pantai kampus Stasiun Kelautan Dumai. (*)
Sumber : http://pekanbaru.tribunnews.com/

Komunitas BMC Bakal Tanam Mangrove di Pesisir Bengkalis

Standard


TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Komunitas Belukap Mangrove Club (BMC) Faperika UR bakal mengadakan reboisasi di pesisir Kabupaten Bengkalis, persisnya di daerah Pambang pada bulan Oktober mendatang. Hal itu dikatakan oleh Ketua BMC, Khairul Mukmin kepada Tribun, Minggu (3/7/2016).
Khairul menyatakan, penghijauan yang bakal mereka lakukan adalah menanam bibit mangrove di bibir pantai Bengkalis. Menurutnya, pesisir pantai Bengkalis saat ini mengalami abrasi yang cukup besar dan cepat.
"Kabupaten Bengkalis saat ini mengalami laju abrasi yang cukup tinggi dengan rata-rata 42,5 Hektar per tahun. Penyebabnya adalah tidak seimbangnya ekosistem akibat dari kenaikan muka air laut karena berlangsungnya pemanasan global dan hilangnya vegetasi hutan mangrove yang dimana sistem perakarannya mampu memecahkan ombak yang akan mengarah ke pantai,"ujarnya.
Lebih jauh dikatakan Khairul, untuk mengurangi laju abrasi itu perlu melakukan kesadaran baik dari kalangan siswa, masyarakat dan instansi. Mereka ini nantinya akan dilibatkan dalam kegiatan penghijauan pesisir.
Ditambahkan Khairul, selain dengan masyarakat setempat, rencananya dalam kegiatan tersebut, mereka juga Bekerjasama dengan kelompok mangrove. Harapannya, setelah dilakukan penghijauan, maka diharapkan abrasi di pesisir pantai Bengkalis bisa berkurang. (*)
Sumber : http://pekanbaru.tribunnews.com/

Hutan Mangrove Mengkapan, Wisata Alam Riau

Standard
Hasil gambar untuk hutan mangrove mengkapan

SIAK, RanahRiau.com - Kawasan Hutan Mangrove yang berada di Desa Mengkapan Kabupaten Siak, saat ini memiliki peran penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem alam.

Kawasan yang dulunya dipandang sebelah mata, namun kali ini menjadi salah satu potensi destinasi wisata. Keindahan yang dimiliki kawasan ini, dikarenakan hamparan laut yang indah yang bisa dinikmati dari jembatan kayu, semakin lengkap dengan kebiasaan masyarakat dan pengunjung untuk meletakkan "Gembok Cinta".

Hasil gambar untuk hutan mangrove mengkapan

Kawasan hutan yang memang dari dulu sudah ada ini, sebenarnya dibentuk pada tahun 2004 dan terekspos tahun 2013.

Setiap pengunjung yang datang ke kawasan ini untuk berwisata juga tidak dipungut biaya alias gratis. Di hutan Mangrove pengunjung juga dapat merasakan sensasi mencari siput dan lokan, wisata air di lingkungan Mangrove, poto selfi di lingkungan Mangrove, menanam Mangrove, memasang gembok cinta Mangrove, dan sebagai Mangrove edukasi.

Bupati Siak, Syamsuar mengatakan bahwa kawasan Hutan Mangrove memiliki peran penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem alam.

Ia mengatakan bahwa kini di Desa Mengkapan, Kecamatan Sungai Apit Kabupaten Siak telah ada satu lagi potensi destinasi wisata Hutan Mangrove yang akan menjadi objek wisata alam di Kabupaten Siak.

Ia mengatakan bahwa, keindahan pantai dan pemandangan sungai yang bisa dinikmati dari jembatan kayu, semakin lengkap dengan kebiasaan masyarakat dan pengunjung untuk meletakkan "Gembok Cinta".

"Tentunya, dengan adanya objek wisata satu ini, akan menambah objek wisata Kabupaten Siak," ungkapnya.

"Kedepannya kita akan menambah objek baru untuk pendatang, seperti tersedianya sampan untuk menyusuri keindahan Mangrove, kemudian adanya satwa Mangrove seperti lutung, monyet serta ikan khas sembilang, lokan dan siput, dan sarana dan prasarana lainnya. Dengan begitu pendatang dapat berlama-lama menikmati wisata Mangrove ini," serunya.

Ia juga mengatakan, menuju lokasi ini hanya butuh waktu sekitar 45 menit dari pusat Kota Siak. Infrastruktur jalan juga sudah bagus. Setelah berjalan di Hutan Mangrove, bisa menikmati segarnya kelapa muda dan makanan khas Mengkapan. 

Suasana nyaman dan segar begitu terasa saat menyusuri Hutan Mangrove.

Seperti di Menara Eiffel di Paris, Ekowisata Mengkapan ini juga membuat "Gembok Cinta Mangrove", sama-sama gembok cinta tapi memiliki beda makna. Gembok cinta Mangrove ini di buat untuk para pengunjung agar ikut serta mencintai Mangrove dan melestarikannya.


Hasil gambar untuk hutan mangrove mengkapan

"Sediakan gemboknya dan pendatang bisa membeli gemboknya," tegasnya. Syamsuar menilai bahwa dengan disediakannya gembok cinta untuk pendatang dapat menambah penghasilan masyarakat sekitar Mangrove.

Tak mau kalah dengan yang lain, Syamsuar juga ikut memasang gembok cintanya lalu kemudian membuang kunci gembok tersebut ke laut. (Adv)

Sumber : http://www.ranahriau.com/

Selasa, 30 Agustus 2016

Kerajinan Berkelas dari Limbah Hutan Manggrove

Standard


SEBAGIAN tubuh Kota Balikpapan ini dililit oleh hutan mangrove. Hutan wisatanya pun ada. Bahkan tengah memopulerkan jenis batik mangrove. Lantas bagaimana dengan kerajinan yang dibuat dari bahan dasar pohon mangrove? Rasa penasaran ini dijawab oleh seorang pria bernama Guntur Harianto. Ya, sejak empat bulan lalu, Guntur mulai memperkenalkan dan merampungkan kerajinan yang dia buat dari sampah pohon mangrove atau kayu-kayu yang sudah mati atau yang sudah terkikis dari pohon.

Berbagai macam kerajinan yang dia buat dari sampah pohon mangrove. Mulai dari perlengkapan interior rumah, seperti tempat lampu frame lukisan atau foto, alas meja, hingga sandal dari bahan dasar ini juga dibuat.

Lantas dari mana dia mendapatkan ide tersebut? Dia mengaku mendapat ide membuat kerajinan dari bahan dasar sampah pohon mangrove ini sekitar 6-7 bulan lalu. Berlatar belakang seniman, sebelumnya dia telah membuat kerajinan dari bahan dasar kardus dan ide pohon mangrove ini dia dapat saat ingin membuat sebuah gantungan kunci dari sampah kayu itu.

“Begitu saya melihat hasil potongan dan tekstur dari sampah pohon mangrove ini, sentak otak saya memberikan sinyal bahwa bentuknya cukup menarik dan dapat dikembangkan menjadi kerajinan yang memiliki nilai jual tinggi dan dapat menjadi kerajinan khas Balikpapan,” ucap pria yang cukup lama bekerja di Dubai ini.

Dia mengaku, setelah melihat potensi dari pohon mangrove. Selama berhari-hari dia terus memikirkan ide dibuat apa sampah kayu mati dari pohon mangrove sampai setelah 3 bulan berpikir dia mendapatkan sebuah ide brilian kalau sampah pohon mangrove dibuat sebuah set interior atau perabotan rumah tangga seperti lampu, lemari kecil, dan lain-lain. “Setelah tiga bulan tersebut ide saya langsung keluar seperti air mengalir deras. Dibuat apa saja sampah dari pohon mangrove ini saya sudah tahu,” kata Guntur.

Pria kelahiran Kediri, 18 Oktober 1973 ini sebelumnya sejak dia duduk di bangku sekolah menengah atas, dia sudah melirik dan melakukan beberapa penelitian terhadap pohon mangrove itu. Saat di Kediri pun dia kerap kali bermain di Pantai Selatan untuk melihat-lihat pohon mangrove yang ada. Dan kebetulan juga dia tinggal di wilayah Kelurahan Margomulyo Gunung Empat yang dekat dengan pohon mangrove.

“Ya, ketertarikan saya sekitar 40 tahun silam pun akhirnya terjawab sekarang. Kerajinan dari pohon mangrove atau sampah kayunya sudah berhasil saya buat,” tuturnya.

Dia mengaku, saat ini kesehariannya menyisiri pantai-pantai atau hutan-hutan mangrove untuk mencari sampah-sampah kayu pohon mangrove. Keunikan sampah pohon mangrove ini, kata Guntur, terletak pada lubang-lubang atau bekas gigitan dari binatang yang menggerogoti sampah ini.

Suatu hari, dia bisa mendapatkan sekitar tiga sampai empat karung beras sampah pohon mangrove. Kendala mencarinya adalah ketika air pasang sulit sekali dan juga jarak yang jauh. “Untuk mencari pohon mangrove saya berkeliling hingga daerah Teritip,” ucap pria yang juga seorang owner perusahaan yang bergerak di bidang advertising dan interior, CV Bintang Utama.

Lantas bagaimana pembuatannya? Dia mengaku satu jenis kerajinan bisa menghabiskan waktu dua sampai lima hari, bergantung dari tingkat Kesulitannya. Berhubung bahan dasarnya “sampah”, sebelum rangkaian potongan sampah pohon mangrove disusun dia lakukan penetralan, seperti merebusnya dan membunuh bakteri dengan bahan kimia.

“Pembuatannya seperti kita menyusun sebuah puzzle atau mozaik. Kita menyusun potongan kayu pohon mangrove yang telah mati ini dan membentuknya menjadi sebuah kerajinan,” kata pria yang juga seniman lukis ini.

Sementara itu, untuk harga jual, dia mengaku baru mulai menjualnya saat pameran Balikpapan Fair 2016. Bekerja sama dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Balikpapan dia mulai memamerkan hasil kerajinannya menggunakan sampah pohon mangrove. “Kerajinan ini saya banderol mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 5 juta,” bebernya.

Dia mengaku belum bisa menyiapkan semua kerajinannya, pasalnya, pembuatannya butuh waktu yang lama dan belum lagi mencari bahan dasarnya. Tapi, untuk satu set interior rumah dia mengaku sudah siap jika ada pemesanan.

Sumber : http://www.pontianakpost.com/

Senin, 09 Mei 2016

Kebun Tebu Batal, Hutan Kepulauan Aru Sementara Aman

Standard
Hutan mangrove di tepian Pulau Kobror, bakal menghilang jika pengembangan tebu terealisasi. Foto: FWI
Setelah mendapat penolakan dari berbagai kalangan, upaya pembabatan hutan di Kepulauan Aru, Maluku, sementara tertunda. Rencana pembukaan kebun tebu oleh PT Menara Group seluas hampir 500 ribu hektar, batal. Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, beralasan, lahan di Kepulauan Aru,  tak cocok buat tanaman tebu.
“Setelah survei dan penelitian kawasan, ternyata lahan di Aru tidak cocok ditanami tebu, ” katanya, dikutip dari Ekuatorial di Jakarta pada Jumat (10/4/14).
Menurut dia, kemiringan lahan di Aru menyebabkan kebun tebu tidak layak dan tak menguntungkan secara ekonomi. Rencana penanaman tebu ini terkait upaya pemerintah menekan impor gula nasional yang mencapai 3 juta ton per tahun.
Sebelum ini, Heru Prasetyo, Deputi Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) juga Kepala Badan REDD+ mengaku pemerintah kecolongan dengan rencana pembukaan ratusan ribu hektar kebun tebu di Kepulauan Aru itu.
UKP4 membahas isu ‘kecolongan’ ini. Sayangnya, Badan REDD+belum bisa masuk ke sana karena baru fokus di 11 provinsi. Namun, kata Heru, UKP4, lewat sang ketua, Kuntoro Mangkusubroto, langsung menyurati Presiden terkait masalah ini.
Zenzi Suhadi,  Pengkampanye Hutan dan Perkebunan Besar Walhi Nasional angkat bicara. Dia mengatakan, Menhut harus mempertegas maksud pembatalan itu.
“Apanya yang dibatalkan? Apakah izin konsesi perkebunan tebu atau SK pelepasan kawasan hutan?” katanya kepada Mongabay, Senin (14/4/14).
Dari pengamatan Walhi, di Maluku, sudah keluar keputusan pelepasan kawasan hutan sekitar 1,6 juta hektar. Kemenhut, katanya,  harus mempertegas klausul dalam SK pelepasan kawasan hutan itu hanya untuk wilayah kelola rakyat. “Tidak boleh terbit izin konsesi perusahaan.”
Sebab, kata Zenzi, jika tak ada penegasan khusus lahan kelola rakyat, justru keberadaan Kemenhut hanya mesin pencuci hak tanah. “Yang ada, nanti malah keluar izin buat sawit.”
Bahkan, bisa lebih parah lagi, izin tebu dan pelepasan kawasan hutan batal malah terbit IUPHHK-HT bagi perusahaan pulp and paper guna merampas kayu alam Aru. “Jangan sampai itu terjadi.”
AMAN menyambut gembira pembatalan izin perkebunan tebu di Kepulauan Aru ini. Namun, kata Abdon Nababan, Sekjen AMAN, sampai saat ini belum jelas berapa banyak izin pelepasan kawasan hutan yang dibatalkan Menhut.  “Juga belum ada kepastian apakah pembatalan ini hanya untuk perkebunan tebu atau komoditas lain seperti sawit,” ujar dia.
Dengan pernyataan Menhut mengenai alasan pembatalan karena tak cocok buat tebu,  kata Abdon, berarti hutan alam di Aru masih terancam. “Kemungkinan masuk perkebunan komoditas lain di luar tebu.”
Pulau Aru di Kepulauan Maluku salah satu pulau-pulau kecil di negeri ini. Ia terletak di sisi tenggara Maluku, berbatasan langsung dengan Australia di Laut Arafura. Kabupaten ini terdiri dari 187 pulau, dengan 89 berpenghuni.  Tutupan hutan seluas  730 ribu hektar di Kepulauan Aru setara 12 kali dari luas daratan Singapura.
Cendrawasih besar (Paradisaea apoda) yang terekam di Kepualau Aru, Indonesia. Foto: Tim Laman
Sejak, 2007,  pulau ini dalam ancaman penguasaan konsorsium PT. Menara Group menaungi 28 anak perusahaan dengan total lahan 484.493 hektar atau tiga perempat dari luas Kepulauan Aru.
Pada 2010, Bupati Kepulauan Aru, Teddy Tengko mengeluarkan izin prinsip, izin lokasi dan rekomendasi sebagai dasar usaha perkebunan tebu Menara Group. Pada 2011, izin diperkuat rekomendasi Karel Albert Ralahalu, Gubernur Maluku kala itu.
Pjs Gubernur Maluku Saut Situmorang kembali menekankan rencana pembukaan kebun tebu itu pada 6 Februari 2014. Kala itu,  rapat terbatas antara Menara Group, Lantamal Papua dan perwakilan pemerintah daerah Situmorang menyatakan, Kepulauan Aru hanya hamparan alang-alang. “Investor harus diberi kesempatan mengelola lahan di Aru.”
Izin ini,  tak hanya mengancam kerusakan hutan alam beserta lingkungan sekitar, juga wilayah adat sekitar 90 negeri atau desa. Luas daratan yang tersisa termasuk pulau – pulau karang dan bakau yang tak mungkin menjadi pemukiman.
Data Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menyebutkan, guna memuluskan operasi, Menara Group sengaja merekrut tenaga survei dari beberapa desa dan dikawal TNI Angkatan Laut. Masyarakat adat merasa ketakutan.
Pada Oktober 2013, terjadi konflik horizontal antara Negeri atau Desa Marfenfen dan Negeri Feruni, diduga buah provokasi Menara Group.
Data terakhir petisi itu menunjukkan, sebanyak 15.048 di atas target 15 ribu. Kampanye juga dilakukan melalui #SaveAru dimobilisasi antara lain Jacky Manuputty dari Komunitas Blogger Maluku.
Pada 11 Oktober 2013, diadakan diskusi SaveAru di Universitas Pattimura diakhiri penetapan Koalisi SaveAru. Dalam pernyataan sikap koalisi itu, mendesak perlindungan negara terhadap segala bentuk kerusakan dan pengrusakan alam, lingkungan, dan manusia di Kepulauan Aru.
Rencana penggunaan tanah rakyat nyaris 500 ribu hektar dari total 643 ribu hektar ini menyebabkan alam, lingkungan dan manusia terancam.
Koalisi ini menolak eksploitasi tanah masyarakat Aru oleh Menara Group atau investor lain. “Kami mendesak pemerintah meninjau kembali atau membatalkan dan mencabut seluruh perizinan,” demikian bunyi pernyataan itu.
Koalisi ini terdiri dari Universitas Pattimura Ambon, Dewan Kehutanan Nasional Maluku, AMAN Maluku, Pecinta Alam Maluku, dan Komunitas Blogger Maluku. Lalu, DPD KNPI Maluku, Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku, Badan Penelitian dan Pengembangan Gereja Protestan Maluku dan Komunitas Ambon Bergerak SaveAru.
Sumber: FWI