Tampilkan postingan dengan label Jenis Mangrove. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jenis Mangrove. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 September 2016

Api-api (Avicennia)

Standard
Api-api adalah nama sekelompok tumbuhan dari marga Avicennia, suku Acanthaceae. Api-api biasa tumbuh di tepi atau dekat lautsebagai bagian dari komunitas hutan bakau. Nama Avicennia dilekatkan pada genus ini untuk menghormati Ibnu Sina, di dunia barat terkenal sebagai Avicenna, salah seorang pakar dan perintis kedokteran modern dari Persia.
Sebagai warga komunitas mangrove, api-api memiliki beberapa ciri yang merupakan bagian dari adaptasi pada lingkungan berlumpur dan bergaram. Di antaranya:
  • Akar napas serupa paku yang panjang dan rapat, muncul ke atas lumpur di sekeliling pangkal batangnya.
  • Daun-daun dengan kelenjar garam di permukaan bawahnya. Daun api-api berwarna putih di sisi bawahnya, dilapisi kristal garam. Ini adalah kelebihan garam yang dibuang oleh tumbuhan tersebut.
  • Biji api-api berkecambah tatkala buahnya belum gugur, masih melekat di rantingnya. Dengan demikian biji ini dapat segera tumbuh sebegitu terjatuh atau tersangkut di lumpur.
Nama lain api-api di pelbagai daerah di Indonesia di antaranya adalah mangi-mangisia-siaboakkoakmarahupejapipapinyapidan lain-lain.
Api-api
Avicennia germinans.jpg
Api-api Avicennia germinans
Status konservasi
Aman
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:Plantae
Divisi:Magnoliophyta
Kelas:Magnoliopsida
Ordo:Lamiales
Famili:Acanthaceae
Genus:Avicennia
L.


Pemerian

Sisi bawah daun api-api A. marina dengan kelenjar garam
Pohon kecil atau besar, tinggi hingga 30 m, dengan tajuk yang agak renggang. Dengan akar napas (pneumatophores) yang muncul 10-30 cm dari substrat, serupa paku serupa jari rapat-rapat, diameter lk. 0,5–1 cm dekat ujungnya. Pepagan (kulit batang) halus keputihan sampai dengan abu-abu kecoklatan dan retak-retak. Ranting dengan buku-buku bekas daun yang menonjol serupa sendi-sendi tulang.
Daun-daun tunggal, bertangkai, berhadapan, bertepi rata, berujung runcing atau membulat; helai daun seperti kulit, hijau mengkilap di atas, abu-abu atau keputihan di sisi bawahnya, sering dengan kristal garam yang terasa asin; pertulangan daun umumnya tak begitu jelas terlihat. Kuncup daun terletak pada lekuk pasangan tangkai daun teratas.
Perbungaan dalam karangan bertangkai panjang bentuk payung, malai atau bulir, terletak di ujung tangkai atau di ketiak daun dekat ujung. Bunga-bunga duduk (sessile), membulat ketika kuncup, berukuran kecil antara 0,3-1,3 cm, berkelamin dua, kelopak 5 helai, mahkota kebanyakan 4 (jarang 5 atau 6) helai, kebanyakan kuning atau jingga kekuningan dengan bau samar-samar, benang sari kebanyakan 4, terletak berseling dengan mahkota bunga. Buah berupa kapsul yang memecah (dehiscent) menjadi dua, 1–4 cm panjangnya, hijau abu-abu, berbulu halus di luarnya; vivipar, bijinya tumbuh selagi buah masih di pohon.

Akar napas api-api yang penuh sampah di Muara Angke

Ekologi

Api-api menyukai rawa-rawa mangrove, tepi pantai yang berlumpur, atau di sepanjang tepian sungai pasang surut. Beberapa jenisnya, seperti A. marina, memperlihatkan toleransi yang tinggi terhadap kisaran salinitas, mampu tumbuh di rawa air tawar hingga di substrat yang berkadar garam sangat tinggi.
Kebanyakan jenisnya merupakan jenis pionir dan oportunistik, serta mudah tumbuh kembali. Pohon-pohon api-api yang tumbang atau rusak dapat segera trubus (bersemi kembali), sehingga mempercepat pemulihan tegakan yang rusak.
Akar napas api-api yang padat, rapat dan banyak sangat efektif untuk menangkap dan menahan lumpur serta pelbagai sampah yang terhanyut di perairan. Jalinan perakaran ini juga menjadi tempat mencari makanan bagi aneka jenis kepiting bakau, siput dan teritip.
(Untuk ekologi tumbuhan umumnya di wilayah mangrove, lihat pada Hutan bakau)

Ragam jenis dan penyebaran

Sejauh ini diketahui sekitar 8 spesies yang menyebar di dua kawasan perairan utama di wilayah tropis, yakni di Dunia Lama (Afro-Asia dan Australasia) dan Dunia Baru (Pasifik Timur dan Karibia).
Spesies
  • Avicennia albaapi-api hitam. Menyebar mulai dari pantai barat India, Asia Tenggara termasuk Kepulauan Nusantara dan Filipina selatan hingga ke Kepulauan Palau dan Solomon di Pasifik selatan.
  • Avicennia bicolor. Terbatas di pantai barat Amerika Tengah.
  • Avicennia germinans. Di pantai barat dan pantai timur Amerika Tengah termasuk di Kepulauan Karibia, dan di pantai barat Afrika.
  • Avicennia integra. Terbatas (endemik) di pantai utara Australia (Northern Territory).
  • Avicennia marinaapi-api putih. Memiliki anak jenis (subspesies) paling banyak dan sebaran yang paling luas, mulai dari pantai timur Afrika, Teluk Persia, India, Asia Tenggara, ke timur hingga Tiongkok dan Jepang, serta ke selatan menyebar di seluruh kawasan Indomalaya hingga ke Australasia dan kepulauan di Pasifik Selatan.
  • Avicennia officinalisapi-api daun lebar, api-api ludat. Serupa dengan A. alba, menyebar mulai dari pantai barat India, Asia Tenggara, Kepulauan Nusantara dan Filipina, hingga ke Australasia, terutama melalui pesisir selatan Papua hingga ke Papua Nugini.
  • Avicennia rumphiana. Agak jarang ditemukan, api-api ini menyebar terutama di Kepulauan Nusantara, mulai dari Malaysia di barat, Filipina di utara, hingga Papua di timur.
  • Avicennia schaueriana. Menyebar sedikit di Karibia timur dan di pantai timur Amerika Selatan mulai dari Venezuela hingga Argentina di selatan.

Catatan taksonomis

Taksonomi Avicennia membingungkan dan belum mantap. Sebelumnya marga ini diklasifikasikan ke dalam suku Verbenaceae, sesuku dengan pohon jati, laban dan sungkai. Akan tetapi sebagian pakar kemudian memisahkannya ke dalam suku bermarga tunggal Avicenniaceae.
Belakangan, analisis filogeni yang terbaru mendapatkan bahwa kemungkinan Avicennia lebih tepat diletakkan di dalam suku Acanthaceae, sekerabat dengan jeruju (Acanthusspp.) yang juga biasa ditemui di lingkungan mangrove.

Sumber : //id.wikipedia.org/

Selasa, 30 Agustus 2016

PUTUT/TUMU (Bruguiera gymnorrhiza)

Standard
Putut, tumu atau kendeka (Bruguiera gymnorrhiza) adalah sejenis perdu atau pohon kecil penghuni hutan bakau, anggota suku Rhizophoraceae. Pohon yang sering ditemukan di bagian dalam zona intertidal ini menyebar luas di pantai-pantai Samudra Hindiasemenjak Afrika timur, Madagaskar, India, Asia Tenggara, dan Nusantara, serta menyeberang hingga Australia tropis dan Pasifik barat.
Tumbuhan ini juga dikenal dengan nama-nama lokal seperti pertut (Aceh); taheup, tenggel (Sim.); putut, tumu (Riau); kandeka (Btw.);tanjang (Jw.); lindur (Md.); sala-sala (Bug.); tongke (Amb.). Juga bako, bangko, wako, mangi-mangi, mutut besar, sarau, tanjang merah, tomo, totongkek. Namanya di negara lain di antaranya: bakau besar, betut, tumu, tumus, tumbus (Mal.); bakau, bakauan, busiin, busaing, pututan, patutan, patotan, pototan (Fil.); arara, mapeke (PNG), Vet dù bông dó (Viet.), prasak, pangka hua sum dok khao (Thai.),basac kroahom (Kamb.). Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai large-leafed mangrove, oriental mangrove atau orange mangrove.
Berkas:Bruguiera gymnorrhiza00.jpg
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:Plantae
(tidak termasuk):Angiospermae
(tidak termasuk):Eudikotil
(tidak termasuk):Rosidae
Ordo:Malpighiales
Famili:Rhizophoraceae
Genus:Bruguiera
Spesies:B. gymnorrhiza
Nama binomial
Bruguiera gymnorrhiza
(L.) Lam.

Pengenalan


Pohon yang selalu hijau, tinggi hingga 15 m (jarang sampai 30 m), dengan pepagan berwarna abu-abu gelap hingga coklat, berlentisel. Pangkal batang sering dengan banir dan dengan banyak akar lutut.
 Daun-daun berhadapan dalam kelompok di ujung ranting, agak tebal seperti jangat, bentuk jorong, 4,5-7 × 8,5-22 cm, hijau tua di atas dan kekuningan di sisi bawah, bertangkai 2–4 cm, dengan daun penumpu (stipule) panjang runcing di pucuknya. Tangkai daun dan daun penumpu sering tersaput warna merah atau kemerahan.
Tangkai daun, daun penumpu, dan bunga berwarna kemerahan
Bunga soliter di ketiak daun, menggantung pada tangkai sepanjang 9-25 mm. Kelopak serupa mangkuk dengan sisi luar mulus atau paling-paling berlekuk, jarang berusuk, bertaju panjang runcing 10-14 (16) buah, hijau kuning kemerahan hingga merah terang. Helai mahkota berjumlah 10-16, putih krem lama-kelamaan jingga kecoklatan, masing-masing 13–16 mm panjangnya, berambut halus di sisi belakangnya, berbagi dua, dengan 2-3 lembar rambut halus sepanjang lk. 3 mm di ujung taju mahkota dan selembar rambut di tengah lekukannya.
Buah melingkar spiral, 2-2.5 cm panjangnya, penampangnya bundar. Yang biasanya dikira buah sesungguhnya adalah hipokotil, yakni buah yang telah berkecambah, berbentuk seperti ceruturamping, 12–25 cm panjang × 1½-2 cm gemang, hijau tua, dengan penampang bundar atau sedikit menyegi.

Ekologi

Putut merupakan jenis mangrove yang memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi. Pohon ini kerap mendominasi hutan bakau tua, menandai tahap akhir perkembangan zona litoral dan transisi ke zona daratan yang lebih kering. Meski lebih umum ditemukan di bagian pedalaman dibandingkan dengan di zona intertidal bawah atau di sisi yang berhadapan langsung dengan laut, pohon ini mampu hidup di pelbagai kondisi salinitas dari yang hampir tawar hingga air laut, dengan berbagai tingkat penggenangan hutan bakau dan aneka jenis substrat. Putut tumbuh baik di wilayah berlumpur, berpasir, dan sesekali juga di lumpur bergambut.
Putut berbunga dan berbuah di sepanjang tahun. Bunganya diserbuki burung. Propagulnya (buah yang berkecambah) terapung-apung dibawa arus dan pasang-surut air laut, hingga tersangkut dan tumbuh besar menjadi pohon baru.

Kegunaan

Akar lutut putut (latar depan)
Putut terutama dinilai penting sebagai jenis pohon mangrove yang mampu beradaptasi dengan baik pada pelbagai kondisi tanah, salinitas, penggenangan pasang-surut air laut, dan juga naungan. Dianjurkan ditanam bersama dengan jenis mangrove lainnya, pohon ini dianggap mampu membantu menstabilkan tanah, melindungi pantai, dan memperkaya mangrove sebagai habitat aneka fauna.
Kayunya dinilai sebagai jenis kayu bakar terbaik. Kayu ini mudah terbakar, sekalipun baru ditebang, dan menghasilkan panas yang tinggi; sehingga disukai sebagai pasokan dapur pembakaran batu bata dan kapur. Kayu putut juga berat, keras, dan kuat; awet digunakan sebagai tiang rumah dan pondasi dalam tanah berawa. Kayu ini lebih awet lagi bila digunakan di bawah atap.
Pepagan (kulit batang) putut merupakan bahan penyamak yang baik. Pepagan ini mengandung tanin rata-rata antara 28,5–32,2%. Secara tradisional, pepagan putut digunakan untuk mewarnai (hitam) kain dan mengawetkan (ubar) jala. Dalam jumlah kecil, pepagan ini juga dipakai untuk membumbui ikan.
Di samping itu, pepagan putut memiliki khasiat pengobatan yang cukup banyak. Penduduk Solomon memanfaatkan pepagan ini untukaborsi dan untuk menyembuhkan luka bakar. Di Indonesia, bahan ini digunakan untuk mengobati diare dan demam. Sementara diKamboja, pepagan putut dipakai sebagai anti malaria. Pepagan tumu putih (B. sexangula), kerabat dekat putut, diketahui mempunyai khasiat anti kanker.
Di pulau-pulau terpencil, daun-daun mudanya digunakan sebagai lalap atau sayuran. Bagian dalam hipokotil (‘buah’) putut, setelah diolah terlebih dulu, dimanfaatkan sebagai pengganti makanan pokok pada masa paceklik. Pada masa lalu, ‘buah’ putut ini juga dijadikan semacam nyamikan yang dikenal sebagai “manisan kandeka”.

Jenis serupa

Tumu putih (Bruguiera sexangula) dapat tertukar dengan putut. Tumu putih kadang-kadang juga memiliki kelopak bunga yang kemerahan, meskipun pada umumnya berwarna kuning; demikian pula sebaliknya. Namun, tumu putih hanya memiliki 1-2 lembar rambut halus sepanjang kurang dari 1,2 mm (putut: 2-3 lembar sepanjang 2–3 mm) di ujung taju mahkota bunga. Di pangkal bagian dalam daun penumpu, tumu putih memiliki 3-5 seri (putut: 12-14 seri) colleter –yakni semacam kelenjar serupa jari kecil-kecil.
Ciri lain, ukuran daun tumu putih maksimal sekitar 6 × 15 cm (putut: 7 × 22 cm) dan panjang hipokotil yang masak maksimal sekitar 6–8 cm (putut: 15–25 cm).

Sumber : https://id.wikipedia.org

Senin, 09 Mei 2016

Pidada (Sonneratia)

Standard
     Pidada adalah nama umum untuk sekelompok tumbuhan dari marga Sonneratia. Sebelumnya marga ini bersama marga Duabanga ditempatkan dalam suku Sonneratiaceae; akan tetapi kini keduanya dimasukkan sebagai anggota suku Lythraceae. Marga ini juga dinamai Blatti oleh James Edward Smith, namun nama Sonneratia mendapatkan prioritas sebagai nama ilmiah.
Berkas:Sonne caseo 080627 0100 Fr smlu.jpg
Kerajaan:Plantae
Divisi:Magnoliophyta
Kelas:Magnoliopsida
Ordo:Myrtales
Famili:Lythraceae
Genus:Sonneratia
L.f.
        Nama-nama lainnya adalah berembang (Mal.), perepat (yang adalah juga namau ntuk jenis Sonneratia lainnya, Sonneratia alba), bogem (Jawa), mangrove apple (Ingg.), dan mangroven apfel atau holzapfel mangrove (Jerman).
Berkas:Sonneratia pagatpat Blanco1.175b.png
Spesies-spesies dari Pidada
Marga Sonneratia beranggotakan duapuluh spesies:
  • Sonneratia acida L.f.
  • Sonneratia alba Griff.pidada putih
  • Sonneratia apetala Buch.-Ham.
  • Sonneratia caseolaris L. ) Engl.pidada merah
  • Sonneratia evenia Blume
  • Sonneratia griffithii Kurz
  • Sonneratia gulngai N.C.Duke
  • Sonneratia hainanensis W.C.Ko , E.Y.Chen & W.Y.Chen
  • Sonneratia iriomotensis Masam.
  • Sonneratia lanceolata Blume
  • Sonneratia mossambicensis Klotzsch
  • Sonneratia neglecta Blume
  • Sonneratia obovata Blume
  • Sonneratia ovalis Korth.
  • Sonneratia ovata Backer
  • Sonneratia pagatpat Blanco
  • Sonneratia paracaseolaris W.C.Ko, E.Y.Chen & W.Y.Chen
  • Sonneratia punctata J.F.Gmel.
  • Sonneratia rubra Oken
  • Sonneratia urama N.C.Duke

Penulis : SAE
Sumber : Wikipedia