Tampilkan postingan dengan label Kegiatan BMC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kegiatan BMC. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Maret 2017

Recruitment Of Belukers

Standard


[BMC UR]

🌿🌿 ROKERS (Recruitment Of Belukers) 2017 🌿🌿

BIRU LAUT KU !!!
HIJAU PESISIR KU !!!

BMC (Belukap Mangrove Club) adalah satu-satunya Study Club yang ada di Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau yang peduli terhadap sumberdaya ekosistem mangrove di Indonesia khususnya di Sumatera (atau di Riau).

Oleh karena itu kami membuka peluang sebesar-besarnya bagi anda para pecinta lingkungan pesisir yang suka dengan hal yang berbau riset dan ilmiah serta bermanfaat bagi masyarakat. Untuk bergabung bersama kami menjadi pelopor terdepan dalam penyelamatan wilayah pesisir.

Catat tanggal penting serta syaratnya ya guys !!!

Pendaftaran di buka pada tanggal 27 Maret - 09 April 2017 di Stand ROKERS 2017 atau bisa langsung ke Sekretariat BMC UR di Gedung Marine Center Lt. 1

Syarat:
✔ Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau di segala jurusan
✔ Maksimal Semester 4
✔ Mengisi formulir online di https://goo.gl/forms/tfPu7q29V74E2ELu1 , formulir online yang telah di isi harap di Screenshot sebagai bukti bahwa anda telah mengisi formulir online tersebut
✔ Melakukan pendaftaran ulang ke Stand ROKERS 2017 atau ke Sekretariat BMC serta membawa bukti Screenshot pendaftaran online
✔ Biaya pendaftaran sebesar 20k

More information,
Fajar Setiawan (081267245029)
Eryc Pranata (081372642536)

***

●Belukap Mangrove Club UR ●

Ketum_Khairul Mukmin Lubis
Ketupel_Dimas Agung Guntara

--------------------------

● Facebook : BMC UNRI
● Twitter : BMC_UR
● Instagram : BMC_UR
● Web : bmcuniversitasriau.blogspot.co.id

Minggu, 26 Februari 2017

Belukap Mangrove Club dan Badan Otorita Mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Riau Mengadakan Gerakan Bersih Pantai dan Laut Di Ekowisata Mangrove Desa Mengkapan

Standard

Belukap Mangrove Club (BMC) Ilmu Kelautan Universitas Riau dan Badan Otorita Mahasiswa Ilmu Kelautan Memperingati Hari Peduli Sampah Nasional pada tanggal 21 Februari 2016 di Ekowisata Mangrove Jembatan Hitam Desa Mengkapan Kecamatan Sungai Apit Kabupaten Siak. Dalam Memperingati Hari Sampah Nasional kali ini Dengan Membuat Kegiatan Gerakan Bersih Pantai dan Laut. Kegaiatan ini di ikuti oleh Pengrus Belukap Mangrove Club Universitas Riau dan Pengerus Badan Otorita Mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Riau Serta Para Pengunjung yang berwisata turut andil dalam kegiatan tersebut.

Pada Kegiatan ini para peserta kegiatan memungut sampah di sekitar pantai dan daerah hutan mangrove yang berada di kawasan wisata mangrove jembatan hitam. Dalam Kegiatan ini setidaknya dapat memberikan dampak yang positif, karena muaranya sampah pasti akan berakhir di lautan dan di daerah pesisir. Pada Saat Melakukan Aksi Sampah yang terkumpul banyak berupa Sampah Plastik, Plastik yang lama terurai. Gerakan Bersih Pantai dan Laut ini juga nantinya dapat mengurangi dampak pencemaran yang dimana di sebabkan limbah padat ini dapat berkurang dan dapat di cegah dengan kesaradaran dari diri kita sendiri. Kegiatan ini nantinya menghilangkan Predikat Indonesia yang Katanya Sebagai Penghasil Sampah Pelasti Ke-2 di Dunia Di Lautan Versi Green  Peace.  

Kegiatan ini Bukan kegiatan yang pertama kali karena  kegiatan ini masuk kedalam program kerja Belukap Mangrove Club Ilmu Kelautan Universitas Riau, Kegiatan yang biasanya kita melakukan Penanaman dan Pembibitan kita selalu mengadakan aksi bersih pantai. Kita ketahui Bahan Pencemar itu ada di sekitar kita dan terkhusunya lagi yang lebih parah bila banyak di lautan bagaimana dengan keadaan ekosistem kita yang di laut siapa yang akan memperhatikan kalau bukan kita, kalau sampah sudah menumpuk di lautan dan terdapat bahan pencemar maka yang merugi adalah kita sebagai manusia, karena dampaknya bisa menyebabkan kita sakit yang terkadang di banyak di sebabkan oleh bahan pencemar tersebut “ Ujar Khairul (Ketua Belukap Mangrove Club Universitas Riau).

Dalam Kegiatan ini Kami Selaku Peserta Gerakan Bersih Pantai dan Laut  Nantinya Para Pengunjung juga harus menaati peraturan bila berkunjung ke ekowisata tersebut untuk tidak membuang sampah sembarangan dan memungut sampah bukan dilakukan pada saat waktu peringatan hari lingkungan saja namun tanamkan kesadaran diri kita untuk tetap menjaga lingkungan.

 Peserta Gerakan Bersih Pantai Laut Sedang Memungut Sampah di Sekitaran Bibir Pantai dan Di Sela – sela Akar Mangrove






Sedang memungut Sampah Plastik di Sekitaran Mangrove Jenis Pandanus SP


Foto Bersama Dengan Para Pengunung Yang Ikut Berpartisipasi Dalam Gerakan Bersih – bersih Pantai Di Jembatan Hitam Ekowisata Mangrove Mengkapan



Salah Satu Anggota Belukap Mangrove Club dan Ketua Badan Otorita Mahasiswa Ilmu Kelautan Sedang Memungut Sampah di Bawah Jembatan Hitam yang biasa tempat Orang Berselfie

Oleh : Khairul Mukmin Lubis

Belukap Mangrove Club Melakukan Belukers Go To School dan Penghijauan Pesisir di Kabupaten Bengkalis

Standard

Belukap Mangrove Club jurusan ilmu kelautan melakukan kegiatan Belukers Go To School dan Penghijauan Pesisir di Bengkalis. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada generasi – generasi muda akan pentingnya menjaga kelestarian ekosistem mangrove di Pulau terluar dan terdepan khususnya di riau yang itu Kabupaten Bengkalis.

Bengkalis merupakan daerah yang sangat rentan terhadap hempasan gelombang yang menghempas ke bibir pantai sehingga dampak yang di timbulkan adalah abrasi. Tidak hanya itu bahwa ekosistem mangrove yang ada di bengkalis lambat laun perluasannya menurun beragam upaya telah banyak di lakukan namun tentu banyak pula mengeluarkan biaya yang besar seperti mebangun Turap untuk meredam gelombang yang datang.

Pada Kesempatan ini Belukap Mangrove Club Jurusan Ilmu Kelautan Mengajak Siswa/i SMP N 10 Bengkalis, SMP N 2 Bantan, SMA N 2 Bantan, SMA N 3 Bantan ikut dalam Kegiatan Penghijauan Pesisir. Kegiatan ini juga bekerja sama dengan Kelompok Masyarakat Pengawas Belukap Kecamatan Bantan yang bergerak dalam pelestarian ekosistem mangrove.

Sebelumnya pada tanggal 18/11/2016 Para Anggota BMC melakukan kunjungan Kesekolah untuk mensosialisasikan akan pentingnya ekosistem mangrove dan pengenalan karakteristik ekositem mangrove bagi siswa/i SMP N 2 Bantan. Agenda Kegiatan ini berupa Seminar Mangrove, Pelatihan pengolahan makanan berbaku dari tumbuhan Mangrove non kayu, Penanaman 1000 Bibit Mangrove dan Coastal Clean Up “ Ujar Ketua Panitia Kaprisal.

Kegiatan pada hari pertama 19/11/2016 yaitu Seminar Mangrove dimana Pemateri dalam kegiatan ini adalah Pertama adalah Dinas Kelauta dan Perikanan Kabupaten Bengkalis yang di wakili oleh Nanang Harmoyo, S.Pi, M.Si membawakan materi tentang Upaya Rehabilitasi Ekosistem Mangrove Yang telah di Lakukan Oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bengkalis, Kedua Dewan Pembina Belukap Mangrove Club Jurusan Ilmu Kelautan Sekaligus Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau yaitu Prof. Dr. Ir. Bintal Amin, M.Sc membawakan materi tentang Upaya Ekosistem Mangrove dalam Mitigasi Perubahan Iklim, Ketiga yaitu Miswadi S.Pi, M.Si. dari Mangrove Research Institute membawakan materi tentang Model Konservasi Mangrove dan Ekowisata Mangrove. Pada kegiatan Hari pertama tampak hadir Sekdes Desa Teluk Pambang beserta Tokoh Masyarakat Desa Teluk Pambang.

“Kegiatan ini sangat positif terhadap daerah kami khususnya, dengan adanya kegiatan ini akan tumbuh rasa kepedulian bersama untuk menjaga dan merawat ekosistem mangrove yang masih terdapat di kawasan Desa Teluk Pambang dan tentunya tidak luput dari dukungan dari Stakeholder terkat” Ujar Sekdes Desa Teluk Pambang.
Pada kegiata seminar ini peserta banyak tertarik untuk mendengarkan materi yang di sampaikan oleh Narasumber yang di undang oleh Belukap Mangrove Club. Kegiatan Hari kedua yatu penanaman 1000 Bibit Mangrove bibit yang di tanam diantaranya dari jenis Belukap (Rhizophora mucronata), Lenggadai (Bruguiera parviflora)  dan Tengar (Ceriops tagal).

Harapan dari kegiatan ini akan tumbuh jiwa – jiwa muda yang terus menjaga ekosistem mangrove di daerah pesisir dimana mereka tinggal dan jangan ada lagi penebangan liar yang terjadi demi untuk mendapatkan kayu mangrove, manfaat mangrove bukan hanya sebagai bahan kayu arang. Masih banyak jasa – jasa yang dapat diberikan dari ekosistem mangrove, segiogianya kita harus berfikir bahwa yang terpenting ekosistem ini dapat mencegah dampak dari perubahan iklim yang terjadi dewasa ini dan berfikir kedepan bagaimana membuatn industri kreatif di bidang mangrove baik itu dijadikan wisata, edukasi bagi siswa/i yang berdomisili di wilayah pesisir dan produk makanan lainnya yang dapat di olah dari ekosistem mangrove ini. 
Oleh : Khairul Mukmin Lubis

Sabtu, 25 Februari 2017

Sabtu, 10 September 2016

BMC, Mutiara dari Sumatera

Standard
MANGROVEMAGZ. Hai Magzrover! Pulau Sumatera menyimpan mutiara. Bukan mutiara biasa, melainkan sosok organisasi penyelamat mangrove yang berbasis mahasiswa di bawah Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Riau. Sepak terjangnya tak bisa dikatakan biasa, karena telah berhasil memberikan contoh yang baik kepada masyarakat di sana, mengenai arti pentingnya mangrove. Penasaran? Berikut ini, hasil wawancara Ganis Riyan Efendi melalui email, dengan mereka.
Apakah singkatan dari BMC Riau? 

Sejak kapan BMC Riau berdiri?
BMC berdiri pada tanggal 2 Desember 2009.

BMC Riau ini di bawah jurusan Ilmu Kelautan UNRI, ya? Benarkah?
Iya, BMC berdiri dibawah Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Riau (UR). Kedudukan kami ada di kampus FAPERIKA di gedung Marine Center, kampus Bina Widya Panam dan satu lagi di kampus Marine Station kota Dumai, provinsi Riau.

 
BMC berbincang di radio. (Foto: BMC).

Apa saja program kerja BMC Riau?
BMC mempunyai program kerja internal dan eksternal.
Internal meliputi:
1. PKBMC (Pengukuhan Kepengurusan BMC) untuk mengukuhkan kepengurusan BMC yang baru.
2. ROKER (Recrutment of Belukers) untuk penerimaan CAKAP (Calon Belukap).
3. DIKSAROVE (Pendidikan Dasar Mangrove) untuk pembekalan dasar mangrove serta pelantikan Beluker Baru.
4. RDT (Rancangan Dwi Tahunan) untuk musyawarah anggota dan pergantian kepengurusan.
5. MILAD BMC untuk mempringati hari berdirinya BMC, pada tanggal 2 Desember, tiap tahunnya.
6. PDM (Pengalaman dari Mangrove) untuk berbagi pengalaman dan informasi tentang segala hal yang berhubungan dengan ekosistem mangrove.
Eksternal meliputi:
1. PENGSIR (Penghijauan Pesisir) untuk seminar, pelatihan, penyuluhan dan penanaman mangrove.
2. CE (Coastal Education) untuk seminar, pembibitan, penyuluhan, dan penyulaman mangrove.
3. GBPL (Gerakan Bersih Pantai dan Laut).
4. BGTS (Belukers Go To School) untuk mengkampanyekan ekosistem mangrove ke tingkat sekolah-sekolah.
5. BENING (Beluker Monitoring) untuk studi, wisata dan mendokumentasikan ekosistem mangrove di beberapa tempat.
6. RM (Riset Mangrove) untuk penelitian mangrove yang dilaksanakan oleh Belukers.

Berapa orang anggota BMC Riau, saat ini?
Anggota yang aktif 31 orang, semuanya aktif.

 
Pengukuhan kepengurusan baru BMC oleh pihak kampus UR. (Foto: BMC).

Menurut BMC, mengapa mangrove di Riau wajib dilestarikan. Ada ancaman apa?
Melihat provinsi Riau memiliki wilayah pesisir dan ekosistem mangrove di beberapa kabupaten, namun ekosistem mangrove ini sudah banyak yang rusak karena alih fungsi lahan, maka dari itu kami hadir untuk mensosialisasikan dan melakukan aksi untuk lingkungan hidup.

Apakah BMC sudah pernah melakukan sosialisasi kebijakan mangrove di Riau?
Sejauh ini sudah, melalui program eksternal yang ada pada AD/ART BMC.

Apakah visi dan misi BMC dalam melestarikan mangrove?
Visi BMC, yaitu sebagi pusat kegiatan mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan Universitas Riau dalam bidang konservasi, rehabilitasi, kampanye serta studi eksosistem mangrove. Misinya adalah:
1. Meningkatkan keahlian dan potensi mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dalam bidang konservasi dan rehabilitasi ekosistem mangrove.
2. Mengkampanyekan ekosistem mangrove kepada mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelauatan, Universitas Riau khususnya dan masyarakat luas secara umum.

Apa yang membuat BMC berbeda dengan organisasi mangrove lainnya?
Organisasi BMC bergerak untuk menunjang keilmuan mahasiswa Ilmu Kelauatn yang akan menumbuhkan jiwa yang cinta lingkungan, khususnya untuk ekosistem mangrove. Organisasi BMC sebuah club study di bawah jurusan Ilmu Kelautan yang dimana memiliki Pembina, yang juga berdasarkan dari dosen Ilmu Kelautan.

 
Belajar pemetaan mangrove bersama BMC. (Foto: BMC).

Apakah BMC punya tokoh pejuang/organisasi mangrove panutan? Kenapa?
Ada Bapak Darwis dari Pecinta Alam Bahari (PAB) kota Dumai karena sudah memberikan pemahaman serta sudah berbuat banyak terhadap penyelamatan ekosistem mangrove yang berada di Dumai.

Bagaimana kondisi mangrove di Riau saat ini? Bagaimana tingkat keanekaragaman hayatinya? Adakah jenis flora dan fauna yang terancam keberadaannya?
Kondisi mangrove dikatakan rusak karena banyak dialih fungsi lahan menjadi sawit dan ditebang menjadi kayu arang. Keanekaragamannya sangat baik, memiliki mangrove sejati dan mangrove asosiasi. Sejauh ini, belum mendapatkan mana flora dan fauna yang terancam karena makrozoobentos, kera dan biawak masih banyak terlihat dan burung-burung juga masih banyak yang bermigrasi ke ekosistem mangrove yang ada di provinsi Riau.

Selain berkampanye, dengan cara apa lagi BMC berjuang menyelamatkan mangrove di Riau?
Melakukan aksi nyata, seperti menjalani agenda program kerja eksternal BMC.

 
Selain menanam mangrove, BMC juga aktif kampanyekan mangrove kepada khalayak umum di Riau. (Foto: BMC).

Apakah BMC memiliki program atau produk mangrove andalan? Apa saja, bisa dijelaskan?
Sirup dan dodol dari Soneratia alba dan Keripik Jeruju. Hanya itu saja sejauh ini.

Bermitra dengan siapa saja BMC dalam menyelamatkan mangrove di Riau?
Dengan intansi terkait yang menaungi permasalahan ekosistem mangrove ini. Kalau NGO itu, dengan Yayasan Mitra Insani dan LSM TEGAS Kepulauan Meranti provinsi Riau dan Kelompok Mangrove Muara Bimbai, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara.

Bagaimana tanggapan pihak kampus dengan kehadiran BMC di UNRI? Apakah kampus memberikan dukungan penuh? Mengapa?
Tanggapannya sangat baik karena menunjang keilmuan mahasiswa Ilmu Kelautan dan mereka memberikan dukungan terhadap BMC, baik itu secara moral dan moril, serta kami juga saling bertukar pikiran dengan pihak kampus akan pentingnya menjaga eksosistem mangrove tersebut.

Apa saja kendala yang dihadapi BMC dalam menyelamatkan mangrove di Riau?
Kendala pertama kami adalah sebagai mahasiswa, yaitu waktu dan anggaran dana ketika ingin berkegiatan.

Siapa saja stake holder mangrove yang aktif dalam pengelolaan mangrove di Riau? Bisa dijelaskan nama, fungsi dan perannya? Dimana posisi BMC?
Stake holder mulai dari KKMD, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Dinas Perikanan dan Kelautan.

 
Rapat suksesi kepengurusan BMC. (Foto: BMC).

Bagaimana solusi BMC menghadapi segala kendala yang dihadapi?
Untuk solusi menghadapi segala kendala, pertama kami harus membina hubungan dan komunikasi kepada orang-orang atau LSM yang bergerak di bidang lingkungan. Kami melakukan sharing ketika mendapatkan solusi dari mitra BMC. Kami juga sharing dengan Pembina. Sejauh ini, kendala hanya di waktu kami sebagai mahasiswa. Dan, kami kedudukannya sekarang di kota Pekanbaru, bukan di Dumai. Jadi, kendala jarak untuk turun ke lapangan itu menjadi suatu kendala utama.

Apa saja prestasi dan pencapaian BMC selama ini?
Sejauh ini prestasi masih sedikit.

Apakah BMC masih memiliki program kerja yang belum terlaksana, namun ingin diwujudkan dalam waktu dekat? Bisa dijelaskan?
Sejauh ini semua terlaksana, baik itu program kerja internal maupun eksternal karena kepengurusan kami 1 periode 2 tahun.

 
Apa harapan BMC untuk masa depan mangrove di Riau pada khususnya dan Indonesia pada umumnya?
Sesuai dengan slogan kami, Biru Lautku Hijau Pesisirku, kami ingin mangrove dapat hidup dengan keanekaragaman yang baik, tidak ada eksplotasi secara berlebihan. Kami harus menjaga kelestarian ekosistem mangrove untuk anak cucu kita. Dan, harapan paling utama, lambat laun masyarakat akan sadar apa manfaat ketika ada ekosistem mangrove tersebut sehingga tidak menyesal seperti sekarang yang ada di pulau Rangsang di desa Kedabu Rapat kepualuan Meranti yang bisa dikatan 20 tahun lagi akan bisa tenggelam pulau tersebut.

 
Inilah Belukers, Biru Lautku Hijau Pesisirku! (Foto: BMC).

Apa pesan BMC kepada generasi muda Indonesia, agar bisa berkiprah dan menebar inspirasi cinta mangrove seperti BMC?
Kalau bukan kita, siapa lagi? Dan, kalau bukan sekarang, kapan lagi? Sudahi kongkow-kongkow tidak jelas. Lebih baik kita menikmati alam ini yang telah diberikan Tuhan dan mari kita jaga untuk keberlangsungan anak cucu kita, khususnya untuk menjadi pejuang mangrove. Lumpur yang kita pijakkan itu, bukan lumpur kesengsaraan ketika kita terjebak di dalam lupur tersebut, namun jadikan ketika kita beraksi di lumpur mangrove dan menanam mangrove. Yakinlah, semua apa yang kita niatkan untuk keberlangsungan lingkungan hidup dalam penyelamatan ekosistem mangrove, maka yang kita rasakan itu kedepannya bukan sekarang.


Sumber : http://mangrovemagz.com/

BMC Ajak Warga Dumai Tanam Mangrove

Standard

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Belukap Mangrove Club (BMC) Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Riau Melakukan Kegiatan Coastal Education di Kelurahan Purnama, Kota Dumai, pada tanggal 12 hingga 13 Desember 2015 kemarin. Kegiatan itu bertepatan dengan memperingati Hari Nusantara yang jatuh pada tanggal 13 Desember 2015.
Ketua BMC Ilmu Kelautan UR, Khairul, Kamis (17/12/2015) mengatakan, kegiatan Coastal Education merupakan program tetap dari BMC. Selama dua hari, acara diadakan di Pusat Pendidikan Mangrove Kampus Stasiun Kelautan Universitas Riau, Kelurahan Purnama Kota Dumai. Bentuk kegiatan berupa seminar sosialisasi mangrove, identifikasi mangrove, outbound mangrove, pelatihan nabung lumpur, pelatihan pembibitan jenis rhizophora dan diakhiri dengan penghijauan pesisir.
" Kegiatan Coastal Education itu mengajak masyarakat, Ikatan Keluarga Alumni Ilmu Kelautan, Mahasiswa dan Siswa/Siswi se Kota Dumai untuk melestarikan hutan mangrove yang ada di kota tersebut, khususnya bagi warga di Kelurahan Purnama,"ungkapnya
Khairul mengutarakan, peserta yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan itu adalah siswa-siswa SD 018 Dumai, SD 012 Dumai, SMP 7, MAN 2 Dumai, serta siswa dari Perwakilan Pramuka SMK Taruna Dumai.
"Para Peserta sangat antusias dalam mengikuti rangkaian kegiatan Coastal Education tersebut. Mereka langsung turun ke lapangan dan mendapatkan pelatihan–pelatihan khusus dengan anggota BMC,"ucapnya.
Ditambahkan Khairul, acara itu dimulai dengan seminar mangrove pada hari pertama. Narasumbernya berasal dari kalangan Instansi pemerintahan dan akademisi.
"Bidang Fungsional Ekosistem Mangrove Badan Pengelolaan Hutan Mangrove Wilayah Dua Medan, Khairul Munadi menyampaikan materi Pengolahan Hutan Mangrove. Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kota Dumai, diwakili oleh Soetjie Purnama Sari SIk, MM, menyampaikan zonasi dan karakteristik ekosistem mangrove. Kemudian akademisi dari Jurusan Ilmu Kelautan yang di Wakili oleh Teguh Heriyanto S.Pi. Ia memberikan materi pentingnya publikasi tentang ekosistem mangrove,"paparnya.
Lebih jauh dikatakan Khairul, kegiatan di hari ke dua peserta diajak ke lapangan untuk melakukan kegiatan nabung lumpur, pembibitan dan penanaman jenis avicenia di pinggir pantai kampus Stasiun Kelautan Dumai. (*)
Sumber : http://pekanbaru.tribunnews.com/

Komunitas BMC Bakal Tanam Mangrove di Pesisir Bengkalis

Standard


TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Komunitas Belukap Mangrove Club (BMC) Faperika UR bakal mengadakan reboisasi di pesisir Kabupaten Bengkalis, persisnya di daerah Pambang pada bulan Oktober mendatang. Hal itu dikatakan oleh Ketua BMC, Khairul Mukmin kepada Tribun, Minggu (3/7/2016).
Khairul menyatakan, penghijauan yang bakal mereka lakukan adalah menanam bibit mangrove di bibir pantai Bengkalis. Menurutnya, pesisir pantai Bengkalis saat ini mengalami abrasi yang cukup besar dan cepat.
"Kabupaten Bengkalis saat ini mengalami laju abrasi yang cukup tinggi dengan rata-rata 42,5 Hektar per tahun. Penyebabnya adalah tidak seimbangnya ekosistem akibat dari kenaikan muka air laut karena berlangsungnya pemanasan global dan hilangnya vegetasi hutan mangrove yang dimana sistem perakarannya mampu memecahkan ombak yang akan mengarah ke pantai,"ujarnya.
Lebih jauh dikatakan Khairul, untuk mengurangi laju abrasi itu perlu melakukan kesadaran baik dari kalangan siswa, masyarakat dan instansi. Mereka ini nantinya akan dilibatkan dalam kegiatan penghijauan pesisir.
Ditambahkan Khairul, selain dengan masyarakat setempat, rencananya dalam kegiatan tersebut, mereka juga Bekerjasama dengan kelompok mangrove. Harapannya, setelah dilakukan penghijauan, maka diharapkan abrasi di pesisir pantai Bengkalis bisa berkurang. (*)
Sumber : http://pekanbaru.tribunnews.com/

Selasa, 30 Agustus 2016

PREROVE 2016/2017

Standard
Haii Manggrove Lovers...!!!
Mimin balik lagi,,,
Oh iya, manggrove lovers udah pada tahu belum apa itu PREROVE ? kalau belum sini mimin jelasin. ;)
Prerove atau Presentasi Manggrove adalah salah satu kegiatan dari BMC (Belukap Manggrove Club). Kegiatan ini diadakan untuk para Cakap (Calon Belukap) yang ingin menjadi Belukap dan anggota resmi dari BMC. Selain menambah pengetahuan dan wawasan dasar mengenai manggrove, kegiatan ini juga dapat mengasah keterampilan mereka dalam melakukan presentasi, berdiskusi dan tanya/jawab. Silaturahmi antara cakap dan belukers juga makin erat loh berkat kegiatan ini.

Nah berikut adalah Pelaksanaan PREROV (persentasi mangrove) yang dilaksanakan pada minggu ke 4 bulan Juni. Yang dibawakan oleh cakap inka. Tentang keadaan mangrove di batam.










Senin, 09 Mei 2016

BMC Universitas Riau Gelar Monitoring Mangrove di Desa Mengkapan

Standard
PEKANBARU - Sabtu (17/10/2015) Belukap Mangrove Club (BMC) Universitas Riau melakukan Belukers Monitoring mangrove.
Ketua Umum BMC, Khairul, Senin (19/10/2015) menjelaskan kegiatan belukers, sebutan dari anggota aktif dari anggota BMC melaksanakan kegiatan monitoring di lokasi ekowisata mangrove Desa Mengkapan Kabupaten Siak.
Lokasi itu dipilih karena kondisi mangrovenya cukup beragam jenis yang tumbuh.
"Di Desa Mengkapan itu sendiri banyak Kita temui jenis Avicenia Sp, Sonneratia SP, Rhizophora Sp, Nypah Fruticans, Pandanus Tectorius, Thespesia Populnea dan Lainnya. Melihat keberagaman jenis mangrovenya itu menunjukan masih ada kesadaran masyarakat terhadap ekosistem mangrove,"ungkapnya.
Khairul menambahkan Desa Mengkapan berhadapan langsung dengan Pulau Padang. Dimana di pulau itu terdapat Perusahaan yang bergerak di bidang Migas. Perusahaan itu membina kelompok mangrove di Desa Mengkapan dengan nama kelompok mangrovenya adalah Kelompok Mangrove Lestari.
Ia menjelaskan Kelompok lestari tidak hanya menjadikan ekosistem mangrove sebagai kawasan hutan yang melindungi pesisir dari terpaan arus pasang, mereka membuka kawasan ekowisata mangrove.
"Kawasan ekowisata itu memberikan berbagai edukasi bagi pengunjung. Paket –paket wisata yang diberikan cukup banyak seperti melakukan penanaman sekaligus berwisata, menangkap siput dan lokan di kawasan ekowisata dan memberikan perkenalan jenis–jenis mangrove yang ada disana,"paparnya. (*)
Sumber :Tribun pekanbaru