Sabtu, 25 Februari 2017

Sabtu, 10 September 2016

Api-api (Avicennia)

Standard
Api-api adalah nama sekelompok tumbuhan dari marga Avicennia, suku Acanthaceae. Api-api biasa tumbuh di tepi atau dekat lautsebagai bagian dari komunitas hutan bakau. Nama Avicennia dilekatkan pada genus ini untuk menghormati Ibnu Sina, di dunia barat terkenal sebagai Avicenna, salah seorang pakar dan perintis kedokteran modern dari Persia.
Sebagai warga komunitas mangrove, api-api memiliki beberapa ciri yang merupakan bagian dari adaptasi pada lingkungan berlumpur dan bergaram. Di antaranya:
  • Akar napas serupa paku yang panjang dan rapat, muncul ke atas lumpur di sekeliling pangkal batangnya.
  • Daun-daun dengan kelenjar garam di permukaan bawahnya. Daun api-api berwarna putih di sisi bawahnya, dilapisi kristal garam. Ini adalah kelebihan garam yang dibuang oleh tumbuhan tersebut.
  • Biji api-api berkecambah tatkala buahnya belum gugur, masih melekat di rantingnya. Dengan demikian biji ini dapat segera tumbuh sebegitu terjatuh atau tersangkut di lumpur.
Nama lain api-api di pelbagai daerah di Indonesia di antaranya adalah mangi-mangisia-siaboakkoakmarahupejapipapinyapidan lain-lain.
Api-api
Avicennia germinans.jpg
Api-api Avicennia germinans
Status konservasi
Aman
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:Plantae
Divisi:Magnoliophyta
Kelas:Magnoliopsida
Ordo:Lamiales
Famili:Acanthaceae
Genus:Avicennia
L.


Pemerian

Sisi bawah daun api-api A. marina dengan kelenjar garam
Pohon kecil atau besar, tinggi hingga 30 m, dengan tajuk yang agak renggang. Dengan akar napas (pneumatophores) yang muncul 10-30 cm dari substrat, serupa paku serupa jari rapat-rapat, diameter lk. 0,5–1 cm dekat ujungnya. Pepagan (kulit batang) halus keputihan sampai dengan abu-abu kecoklatan dan retak-retak. Ranting dengan buku-buku bekas daun yang menonjol serupa sendi-sendi tulang.
Daun-daun tunggal, bertangkai, berhadapan, bertepi rata, berujung runcing atau membulat; helai daun seperti kulit, hijau mengkilap di atas, abu-abu atau keputihan di sisi bawahnya, sering dengan kristal garam yang terasa asin; pertulangan daun umumnya tak begitu jelas terlihat. Kuncup daun terletak pada lekuk pasangan tangkai daun teratas.
Perbungaan dalam karangan bertangkai panjang bentuk payung, malai atau bulir, terletak di ujung tangkai atau di ketiak daun dekat ujung. Bunga-bunga duduk (sessile), membulat ketika kuncup, berukuran kecil antara 0,3-1,3 cm, berkelamin dua, kelopak 5 helai, mahkota kebanyakan 4 (jarang 5 atau 6) helai, kebanyakan kuning atau jingga kekuningan dengan bau samar-samar, benang sari kebanyakan 4, terletak berseling dengan mahkota bunga. Buah berupa kapsul yang memecah (dehiscent) menjadi dua, 1–4 cm panjangnya, hijau abu-abu, berbulu halus di luarnya; vivipar, bijinya tumbuh selagi buah masih di pohon.

Akar napas api-api yang penuh sampah di Muara Angke

Ekologi

Api-api menyukai rawa-rawa mangrove, tepi pantai yang berlumpur, atau di sepanjang tepian sungai pasang surut. Beberapa jenisnya, seperti A. marina, memperlihatkan toleransi yang tinggi terhadap kisaran salinitas, mampu tumbuh di rawa air tawar hingga di substrat yang berkadar garam sangat tinggi.
Kebanyakan jenisnya merupakan jenis pionir dan oportunistik, serta mudah tumbuh kembali. Pohon-pohon api-api yang tumbang atau rusak dapat segera trubus (bersemi kembali), sehingga mempercepat pemulihan tegakan yang rusak.
Akar napas api-api yang padat, rapat dan banyak sangat efektif untuk menangkap dan menahan lumpur serta pelbagai sampah yang terhanyut di perairan. Jalinan perakaran ini juga menjadi tempat mencari makanan bagi aneka jenis kepiting bakau, siput dan teritip.
(Untuk ekologi tumbuhan umumnya di wilayah mangrove, lihat pada Hutan bakau)

Ragam jenis dan penyebaran

Sejauh ini diketahui sekitar 8 spesies yang menyebar di dua kawasan perairan utama di wilayah tropis, yakni di Dunia Lama (Afro-Asia dan Australasia) dan Dunia Baru (Pasifik Timur dan Karibia).
Spesies
  • Avicennia albaapi-api hitam. Menyebar mulai dari pantai barat India, Asia Tenggara termasuk Kepulauan Nusantara dan Filipina selatan hingga ke Kepulauan Palau dan Solomon di Pasifik selatan.
  • Avicennia bicolor. Terbatas di pantai barat Amerika Tengah.
  • Avicennia germinans. Di pantai barat dan pantai timur Amerika Tengah termasuk di Kepulauan Karibia, dan di pantai barat Afrika.
  • Avicennia integra. Terbatas (endemik) di pantai utara Australia (Northern Territory).
  • Avicennia marinaapi-api putih. Memiliki anak jenis (subspesies) paling banyak dan sebaran yang paling luas, mulai dari pantai timur Afrika, Teluk Persia, India, Asia Tenggara, ke timur hingga Tiongkok dan Jepang, serta ke selatan menyebar di seluruh kawasan Indomalaya hingga ke Australasia dan kepulauan di Pasifik Selatan.
  • Avicennia officinalisapi-api daun lebar, api-api ludat. Serupa dengan A. alba, menyebar mulai dari pantai barat India, Asia Tenggara, Kepulauan Nusantara dan Filipina, hingga ke Australasia, terutama melalui pesisir selatan Papua hingga ke Papua Nugini.
  • Avicennia rumphiana. Agak jarang ditemukan, api-api ini menyebar terutama di Kepulauan Nusantara, mulai dari Malaysia di barat, Filipina di utara, hingga Papua di timur.
  • Avicennia schaueriana. Menyebar sedikit di Karibia timur dan di pantai timur Amerika Selatan mulai dari Venezuela hingga Argentina di selatan.

Catatan taksonomis

Taksonomi Avicennia membingungkan dan belum mantap. Sebelumnya marga ini diklasifikasikan ke dalam suku Verbenaceae, sesuku dengan pohon jati, laban dan sungkai. Akan tetapi sebagian pakar kemudian memisahkannya ke dalam suku bermarga tunggal Avicenniaceae.
Belakangan, analisis filogeni yang terbaru mendapatkan bahwa kemungkinan Avicennia lebih tepat diletakkan di dalam suku Acanthaceae, sekerabat dengan jeruju (Acanthusspp.) yang juga biasa ditemui di lingkungan mangrove.

Sumber : //id.wikipedia.org/

BMC, Mutiara dari Sumatera

Standard
MANGROVEMAGZ. Hai Magzrover! Pulau Sumatera menyimpan mutiara. Bukan mutiara biasa, melainkan sosok organisasi penyelamat mangrove yang berbasis mahasiswa di bawah Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Riau. Sepak terjangnya tak bisa dikatakan biasa, karena telah berhasil memberikan contoh yang baik kepada masyarakat di sana, mengenai arti pentingnya mangrove. Penasaran? Berikut ini, hasil wawancara Ganis Riyan Efendi melalui email, dengan mereka.
Apakah singkatan dari BMC Riau? 

Sejak kapan BMC Riau berdiri?
BMC berdiri pada tanggal 2 Desember 2009.

BMC Riau ini di bawah jurusan Ilmu Kelautan UNRI, ya? Benarkah?
Iya, BMC berdiri dibawah Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Riau (UR). Kedudukan kami ada di kampus FAPERIKA di gedung Marine Center, kampus Bina Widya Panam dan satu lagi di kampus Marine Station kota Dumai, provinsi Riau.

 
BMC berbincang di radio. (Foto: BMC).

Apa saja program kerja BMC Riau?
BMC mempunyai program kerja internal dan eksternal.
Internal meliputi:
1. PKBMC (Pengukuhan Kepengurusan BMC) untuk mengukuhkan kepengurusan BMC yang baru.
2. ROKER (Recrutment of Belukers) untuk penerimaan CAKAP (Calon Belukap).
3. DIKSAROVE (Pendidikan Dasar Mangrove) untuk pembekalan dasar mangrove serta pelantikan Beluker Baru.
4. RDT (Rancangan Dwi Tahunan) untuk musyawarah anggota dan pergantian kepengurusan.
5. MILAD BMC untuk mempringati hari berdirinya BMC, pada tanggal 2 Desember, tiap tahunnya.
6. PDM (Pengalaman dari Mangrove) untuk berbagi pengalaman dan informasi tentang segala hal yang berhubungan dengan ekosistem mangrove.
Eksternal meliputi:
1. PENGSIR (Penghijauan Pesisir) untuk seminar, pelatihan, penyuluhan dan penanaman mangrove.
2. CE (Coastal Education) untuk seminar, pembibitan, penyuluhan, dan penyulaman mangrove.
3. GBPL (Gerakan Bersih Pantai dan Laut).
4. BGTS (Belukers Go To School) untuk mengkampanyekan ekosistem mangrove ke tingkat sekolah-sekolah.
5. BENING (Beluker Monitoring) untuk studi, wisata dan mendokumentasikan ekosistem mangrove di beberapa tempat.
6. RM (Riset Mangrove) untuk penelitian mangrove yang dilaksanakan oleh Belukers.

Berapa orang anggota BMC Riau, saat ini?
Anggota yang aktif 31 orang, semuanya aktif.

 
Pengukuhan kepengurusan baru BMC oleh pihak kampus UR. (Foto: BMC).

Menurut BMC, mengapa mangrove di Riau wajib dilestarikan. Ada ancaman apa?
Melihat provinsi Riau memiliki wilayah pesisir dan ekosistem mangrove di beberapa kabupaten, namun ekosistem mangrove ini sudah banyak yang rusak karena alih fungsi lahan, maka dari itu kami hadir untuk mensosialisasikan dan melakukan aksi untuk lingkungan hidup.

Apakah BMC sudah pernah melakukan sosialisasi kebijakan mangrove di Riau?
Sejauh ini sudah, melalui program eksternal yang ada pada AD/ART BMC.

Apakah visi dan misi BMC dalam melestarikan mangrove?
Visi BMC, yaitu sebagi pusat kegiatan mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan Universitas Riau dalam bidang konservasi, rehabilitasi, kampanye serta studi eksosistem mangrove. Misinya adalah:
1. Meningkatkan keahlian dan potensi mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dalam bidang konservasi dan rehabilitasi ekosistem mangrove.
2. Mengkampanyekan ekosistem mangrove kepada mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelauatan, Universitas Riau khususnya dan masyarakat luas secara umum.

Apa yang membuat BMC berbeda dengan organisasi mangrove lainnya?
Organisasi BMC bergerak untuk menunjang keilmuan mahasiswa Ilmu Kelauatn yang akan menumbuhkan jiwa yang cinta lingkungan, khususnya untuk ekosistem mangrove. Organisasi BMC sebuah club study di bawah jurusan Ilmu Kelautan yang dimana memiliki Pembina, yang juga berdasarkan dari dosen Ilmu Kelautan.

 
Belajar pemetaan mangrove bersama BMC. (Foto: BMC).

Apakah BMC punya tokoh pejuang/organisasi mangrove panutan? Kenapa?
Ada Bapak Darwis dari Pecinta Alam Bahari (PAB) kota Dumai karena sudah memberikan pemahaman serta sudah berbuat banyak terhadap penyelamatan ekosistem mangrove yang berada di Dumai.

Bagaimana kondisi mangrove di Riau saat ini? Bagaimana tingkat keanekaragaman hayatinya? Adakah jenis flora dan fauna yang terancam keberadaannya?
Kondisi mangrove dikatakan rusak karena banyak dialih fungsi lahan menjadi sawit dan ditebang menjadi kayu arang. Keanekaragamannya sangat baik, memiliki mangrove sejati dan mangrove asosiasi. Sejauh ini, belum mendapatkan mana flora dan fauna yang terancam karena makrozoobentos, kera dan biawak masih banyak terlihat dan burung-burung juga masih banyak yang bermigrasi ke ekosistem mangrove yang ada di provinsi Riau.

Selain berkampanye, dengan cara apa lagi BMC berjuang menyelamatkan mangrove di Riau?
Melakukan aksi nyata, seperti menjalani agenda program kerja eksternal BMC.

 
Selain menanam mangrove, BMC juga aktif kampanyekan mangrove kepada khalayak umum di Riau. (Foto: BMC).

Apakah BMC memiliki program atau produk mangrove andalan? Apa saja, bisa dijelaskan?
Sirup dan dodol dari Soneratia alba dan Keripik Jeruju. Hanya itu saja sejauh ini.

Bermitra dengan siapa saja BMC dalam menyelamatkan mangrove di Riau?
Dengan intansi terkait yang menaungi permasalahan ekosistem mangrove ini. Kalau NGO itu, dengan Yayasan Mitra Insani dan LSM TEGAS Kepulauan Meranti provinsi Riau dan Kelompok Mangrove Muara Bimbai, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara.

Bagaimana tanggapan pihak kampus dengan kehadiran BMC di UNRI? Apakah kampus memberikan dukungan penuh? Mengapa?
Tanggapannya sangat baik karena menunjang keilmuan mahasiswa Ilmu Kelautan dan mereka memberikan dukungan terhadap BMC, baik itu secara moral dan moril, serta kami juga saling bertukar pikiran dengan pihak kampus akan pentingnya menjaga eksosistem mangrove tersebut.

Apa saja kendala yang dihadapi BMC dalam menyelamatkan mangrove di Riau?
Kendala pertama kami adalah sebagai mahasiswa, yaitu waktu dan anggaran dana ketika ingin berkegiatan.

Siapa saja stake holder mangrove yang aktif dalam pengelolaan mangrove di Riau? Bisa dijelaskan nama, fungsi dan perannya? Dimana posisi BMC?
Stake holder mulai dari KKMD, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Dinas Perikanan dan Kelautan.

 
Rapat suksesi kepengurusan BMC. (Foto: BMC).

Bagaimana solusi BMC menghadapi segala kendala yang dihadapi?
Untuk solusi menghadapi segala kendala, pertama kami harus membina hubungan dan komunikasi kepada orang-orang atau LSM yang bergerak di bidang lingkungan. Kami melakukan sharing ketika mendapatkan solusi dari mitra BMC. Kami juga sharing dengan Pembina. Sejauh ini, kendala hanya di waktu kami sebagai mahasiswa. Dan, kami kedudukannya sekarang di kota Pekanbaru, bukan di Dumai. Jadi, kendala jarak untuk turun ke lapangan itu menjadi suatu kendala utama.

Apa saja prestasi dan pencapaian BMC selama ini?
Sejauh ini prestasi masih sedikit.

Apakah BMC masih memiliki program kerja yang belum terlaksana, namun ingin diwujudkan dalam waktu dekat? Bisa dijelaskan?
Sejauh ini semua terlaksana, baik itu program kerja internal maupun eksternal karena kepengurusan kami 1 periode 2 tahun.

 
Apa harapan BMC untuk masa depan mangrove di Riau pada khususnya dan Indonesia pada umumnya?
Sesuai dengan slogan kami, Biru Lautku Hijau Pesisirku, kami ingin mangrove dapat hidup dengan keanekaragaman yang baik, tidak ada eksplotasi secara berlebihan. Kami harus menjaga kelestarian ekosistem mangrove untuk anak cucu kita. Dan, harapan paling utama, lambat laun masyarakat akan sadar apa manfaat ketika ada ekosistem mangrove tersebut sehingga tidak menyesal seperti sekarang yang ada di pulau Rangsang di desa Kedabu Rapat kepualuan Meranti yang bisa dikatan 20 tahun lagi akan bisa tenggelam pulau tersebut.

 
Inilah Belukers, Biru Lautku Hijau Pesisirku! (Foto: BMC).

Apa pesan BMC kepada generasi muda Indonesia, agar bisa berkiprah dan menebar inspirasi cinta mangrove seperti BMC?
Kalau bukan kita, siapa lagi? Dan, kalau bukan sekarang, kapan lagi? Sudahi kongkow-kongkow tidak jelas. Lebih baik kita menikmati alam ini yang telah diberikan Tuhan dan mari kita jaga untuk keberlangsungan anak cucu kita, khususnya untuk menjadi pejuang mangrove. Lumpur yang kita pijakkan itu, bukan lumpur kesengsaraan ketika kita terjebak di dalam lupur tersebut, namun jadikan ketika kita beraksi di lumpur mangrove dan menanam mangrove. Yakinlah, semua apa yang kita niatkan untuk keberlangsungan lingkungan hidup dalam penyelamatan ekosistem mangrove, maka yang kita rasakan itu kedepannya bukan sekarang.


Sumber : http://mangrovemagz.com/

BMC Ajak Warga Dumai Tanam Mangrove

Standard

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Belukap Mangrove Club (BMC) Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Riau Melakukan Kegiatan Coastal Education di Kelurahan Purnama, Kota Dumai, pada tanggal 12 hingga 13 Desember 2015 kemarin. Kegiatan itu bertepatan dengan memperingati Hari Nusantara yang jatuh pada tanggal 13 Desember 2015.
Ketua BMC Ilmu Kelautan UR, Khairul, Kamis (17/12/2015) mengatakan, kegiatan Coastal Education merupakan program tetap dari BMC. Selama dua hari, acara diadakan di Pusat Pendidikan Mangrove Kampus Stasiun Kelautan Universitas Riau, Kelurahan Purnama Kota Dumai. Bentuk kegiatan berupa seminar sosialisasi mangrove, identifikasi mangrove, outbound mangrove, pelatihan nabung lumpur, pelatihan pembibitan jenis rhizophora dan diakhiri dengan penghijauan pesisir.
" Kegiatan Coastal Education itu mengajak masyarakat, Ikatan Keluarga Alumni Ilmu Kelautan, Mahasiswa dan Siswa/Siswi se Kota Dumai untuk melestarikan hutan mangrove yang ada di kota tersebut, khususnya bagi warga di Kelurahan Purnama,"ungkapnya
Khairul mengutarakan, peserta yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan itu adalah siswa-siswa SD 018 Dumai, SD 012 Dumai, SMP 7, MAN 2 Dumai, serta siswa dari Perwakilan Pramuka SMK Taruna Dumai.
"Para Peserta sangat antusias dalam mengikuti rangkaian kegiatan Coastal Education tersebut. Mereka langsung turun ke lapangan dan mendapatkan pelatihan–pelatihan khusus dengan anggota BMC,"ucapnya.
Ditambahkan Khairul, acara itu dimulai dengan seminar mangrove pada hari pertama. Narasumbernya berasal dari kalangan Instansi pemerintahan dan akademisi.
"Bidang Fungsional Ekosistem Mangrove Badan Pengelolaan Hutan Mangrove Wilayah Dua Medan, Khairul Munadi menyampaikan materi Pengolahan Hutan Mangrove. Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kota Dumai, diwakili oleh Soetjie Purnama Sari SIk, MM, menyampaikan zonasi dan karakteristik ekosistem mangrove. Kemudian akademisi dari Jurusan Ilmu Kelautan yang di Wakili oleh Teguh Heriyanto S.Pi. Ia memberikan materi pentingnya publikasi tentang ekosistem mangrove,"paparnya.
Lebih jauh dikatakan Khairul, kegiatan di hari ke dua peserta diajak ke lapangan untuk melakukan kegiatan nabung lumpur, pembibitan dan penanaman jenis avicenia di pinggir pantai kampus Stasiun Kelautan Dumai. (*)
Sumber : http://pekanbaru.tribunnews.com/

Komunitas BMC Bakal Tanam Mangrove di Pesisir Bengkalis

Standard


TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Komunitas Belukap Mangrove Club (BMC) Faperika UR bakal mengadakan reboisasi di pesisir Kabupaten Bengkalis, persisnya di daerah Pambang pada bulan Oktober mendatang. Hal itu dikatakan oleh Ketua BMC, Khairul Mukmin kepada Tribun, Minggu (3/7/2016).
Khairul menyatakan, penghijauan yang bakal mereka lakukan adalah menanam bibit mangrove di bibir pantai Bengkalis. Menurutnya, pesisir pantai Bengkalis saat ini mengalami abrasi yang cukup besar dan cepat.
"Kabupaten Bengkalis saat ini mengalami laju abrasi yang cukup tinggi dengan rata-rata 42,5 Hektar per tahun. Penyebabnya adalah tidak seimbangnya ekosistem akibat dari kenaikan muka air laut karena berlangsungnya pemanasan global dan hilangnya vegetasi hutan mangrove yang dimana sistem perakarannya mampu memecahkan ombak yang akan mengarah ke pantai,"ujarnya.
Lebih jauh dikatakan Khairul, untuk mengurangi laju abrasi itu perlu melakukan kesadaran baik dari kalangan siswa, masyarakat dan instansi. Mereka ini nantinya akan dilibatkan dalam kegiatan penghijauan pesisir.
Ditambahkan Khairul, selain dengan masyarakat setempat, rencananya dalam kegiatan tersebut, mereka juga Bekerjasama dengan kelompok mangrove. Harapannya, setelah dilakukan penghijauan, maka diharapkan abrasi di pesisir pantai Bengkalis bisa berkurang. (*)
Sumber : http://pekanbaru.tribunnews.com/